Sejarah Daeng Soetigna Sebagai Legenda Angklung


ILOVEATOWN | Sekarang ini, sudah banyak orang yang lebih berkiblat pada dunia modern dan mulia meninggalkan budaya tradisionalnya. Trend ini sendiri seringkali dikaitkan dengan para anak muda yang memang sudah kecanduan dengan modernitas. Lahir dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang memuat filosofi tradisi seringkali dianggap kuno sekaligus ketinggalan zaman.

Padahal dalam nilai tradisional tersebut berupa sekali filosofi yang dititipkan para leluhur. Salah satunya adalah angklung yang tentunya sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi negara ini. Apabila masih ada segelintir orang beranggapan bahwa angklung adalah peninggalan kuno yang tidak diterima dunia internasional adalah anggapan yang salah besar.

Soalnya alat musik ini sendiri semenjak dapat memainkan berbagai instrumen internasional maka semakin diterima luas oleh publik internasional. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari jasa seorang Daeng Soetigna. Beliau adalah sosok yang mampu menciptakan angklung diatonis. Angklung diatonis adalah angklung yang mampu memainkan musik-musik internasional.

Berkat jasanya tersebutlah, alat musik angklung dikenal luas di dunia. Tidak heran apabila kemudian beliau sempat menjadi doodle di Google. Meski dikenal luas di dunia, sayangnya sosok beliau kurang dikenal di negaranya sendiri. Terutama di kalangan generasi muda. Tentunya hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Ada baiknya kalangan muda mengenal sosok beliau lebih dalam seperti penjelasan di bawah ini.

Latar Belakang Pendidikan

Guna lebih mengenali sosok Daeng Soetigna maka bisa dimulai dengan mengetahui latar belakang pendidikannya terlebih dulu. Soalnya latar belakang pendidikan seseorang pastinya akan sangat mempengaruhi karakter yang tercipta. Hal yang sama juga berlaku untuk Daeng Soetigna ini. Beliau sendiri lahir di tanggal 13 Mei 1908 di Garut, Jawa Barat.

Untungnya, beliau tergolong anak yang terlahir dengan kondisi sangat beruntung. Alasannya adalah karena beliau dilahirkan oleh dua orang tua yang merupakan bangsawan Sunda. Status orang tua yang terpandang membuat beliau bisa mengenyam pendidikan. Ketika anak kecil seusianya tidak seberuntung beliau karena tidak bisa mengenyam pendidikan.

Pendidikan pertama yang dianyam beliau adalah sekolah HIS Garut pada tahun 1915 hingga tahun 1921. Ketika itu, beliau sendiri masuk sebagai angkatan kedua pada sekolah tersebut. Sesuatu yang menegaskan bahwa ketika saat itu, sekolah tersebut tergolong masih baru dibandingkan dengan sekolah lainnya di Garut. Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan tersebut maka beliau melanjutkan dengan jenjang pendidikan berikutnya.

Jenjang pendidikan berikutnya yang beliau enyam adalah Sekolah Raja atau dikenal juga dengan nama Kweekschool pada tahun 1922 di Bandung. Tidak berselang lama, Kweekschool ini lantas diganti namanya menjadi HIK yang merupakan singkatan dari Holland Islandche Kweekschol. Hal tersebut sesuai dengan anjuran langsung dari pemerintah Belanda. Hingga kemudian Daeng Soetigna berhasil menyelesaikan pendidikannya di HIK pada tahun 1928.

Menjadi Seorang Guru

Citra guru sepertinya melekat sangat kuat pada diri seorang Daeng Soetigna. Bahkan sampai beliau wafatpun maka banyak orang yang mengenal beliau sebagai seorang guru. Perjalanan beliau dalam menekuni profesinya sebagai seorang guru memang tidaklah mudah dan penuh liku. Perjalanan panjang sebagai guru itu akan jauh lebih mudah dipahami dengan menilik sejarah beliau sebagai guru:

Sejarah Tahun 1928

Karir beliau sebagai seorang guru bisa dibilang diawali pada tahun 1928 yang lalu. Pada tahun tersebut, beliau pertama kali menjadi guru di Schakelschool yang berlokasi di Cianjur. Bisa dibilang, sekolah tersebut terbilang sebagai sekolah yang cukup unggulan di daerah Cianjur pada waktu itu.

Sejarah Tahun 1931

Pengabdian beliau sebagai guru kemudian dilanjutkan di HIS Kuningan. Beliau menjadi guru di tempat tersebut ketika tahun 1931.

Sejarah Tahun 1942

Karir beliau sebagai guru kemudian dilanjutkan pada tahun 1942 ketika menjadi kepala sekolah di HIS Kuningan. Jadi bisa dibilang, beliau masih meniti karir di sekolah yang sama. Hanya saja pada waktu itu, kedatangan Jepang ke Indonesia mulai mengubah banyak hal.

Termasuk mengubah berbagai peraturan dan sistem pendidikannya. Dampak paling nyatanya adalah HIS kemudian oleh pemerintah Jepang diubah menjadi Sekolah Rakyat.

Sejarah Tahun 1945

Seperti yang diketahui bahwa pada tahun 1945 maka negara Indonesia resmi merebut kemerdekaannya. Kemerdekaan yang didapatkan oleh Indonesia juga kemudian berdampak pada banyak perubahan di dunia pendidikan. Terlihat banyaknya guru yang diambil dari Sekolah Rakyat untuk kemudian mengisi posisi guru di sekolah besar. Hal yang sama juga berlaku untuk Daeng Soetigna. Karena beliau kemudian ditugaskan di SMP Kuningan 1.

Sejarah Tahun 1948

Tahun 1948 bisa dibilang menjadi momen tersendiri bagi sosok Daeng Soetigna. Karena pada tahun tersebut, beliau memutuskan untuk pindah ke Bandung. Dalam kepindahannya ke kota Bandung tersebut, beliau memutuskan untuk menjadi Kepala Sekolah sebuah SD.

Sejarah Tahun 1950

Setelah sebelumnya menjalani profesi sebagai guru maka Daeng Soetigna kemudian berhasil diangkat menjadi kepala dan pemilik sekolah pada tahun 1950. Tidak berhenti sampai di situ saja karena kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta memberikan kursus-kursus kepada beliau.

Sejarah Tahun 1956

Momen titik balik pada Daeng Soetigna terjadi pada tahun 1956. Soalnya pada tahun tersebut, beliau ternyata pulang dari Australia dan langsung mendapatkan banyak tanggung jawab sebagai konsultan pengajaran seni suara. Mulai dari SGA 2 Bandung, SGA Kristen Jakarta, SGA 1 Jogjakarta hingga SGA 1 Ambon.

Latar Belakang Keluarga

Selain sebagai seorang guru ternyata beliau juga memiliki status sebagai seorang kepala keluarga. Namun ternyata beliau menjalani kehidupan berkeluarga yang tidak terlalu mulus. Hal tersebut dibuktikan dengan beliau yang mesti menjalani kehidupan pernikahan selama dua kali. Kehidupan pernikahan pertama yang dijalani oleh beliau adalah dengan seorang wanita bernama Ugih Supadmi.

Pernikahan diantara mereka berdua terjadi pada tahun 1930. Dalam pernikahan tersebut, Daeng Soetigna dikaruniai tiga orang anak. Anak pertamanya bernama Aam Amalia, anak kedua bernama Tedja Komala sedangkan anak terakhirnya bernama Ema. Sayangnya, pernikahan tersebut tidak bisa dipertahankan oleh beliau. Setelah pernikahan pertama tersebut, beliau kemudian melanjutkan pernikahan kedua bersama dengan seorang wanita bernama Masjoeti.

Pernikahan diantara mereka terjadi di tahun 1938. Sebuah pernikahan yang ternyata berjalan langgeng dan juga membahagiakan bagi beliau. Terbukti dari pernikahan tersebut yang kemudian dianugerahi tiga orang buah hati kembali. Diawali dengan anak pertama yaitu Iwan Suwargana, anak kedua yaitu Erna Garnasih dilanjutkan dengan anak ketiga yaitu Utut Gartini.  

Guru-Guru dari Daeng Soetigna

Seperti yang diketahui bahwa Daeng Soetigna dikenal sebagai pahlawan angklung modern. Kemahirannya dalam bermain angklung sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun ternyata kemahiran beliau dalam bermain angklung tidak didapatkan dengan begitu saja. Butuh proses panjang yang kemudian menitipkan bnayak ilmu kepada beliau. Termasuk pertemuan beliau dengan banyak guru yang lantas memberikan pengetahuan meluas tentang musik angklung tersebut. Siapa saja guru-guru tersebut? Berikut ini jawaban lebih lengkapnya.

1. Pengemis Tua

Mungkin akan banyak orang yang terkejut ketika mengetahui fakta bahwa guru pertama dari mendiang Daeng Soetigna adalah seorang pengemis biasa. Momen unik ini terjadi ketika pengemis tersebut sedang memainkan lagu khusus yang terbilang unik. Lagu tersebut “Cis Kacang Buncis” yang dimainkan dengan menggunakan angklung tradisional.

Permainan tersebut ternyata memukau Daeng Soetigna secara langsung. Bahkan kemudian memberikan ide bagi beliau untuk mulai mempelajari permainan angklung tersebut. Tidak berhenti sampai di situ saja karena kemudian juga beliau memiliki ide untuk mengajarkan musik angklung tersebut kepada murid-muridnya. Sebagai pengganti dari alat musik mandaloin dan juga biola yang tergolong terlalu mahal pada waktu itu.

2. Pak Djaja

Nama Pak Djaja dalam dunia angklung tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena beliau adalah  pembuat angklung profesional yang sudah lama menjajal bidang ini. kemahirannya dalam membuat alat musik angklung sudah diakui oleh banyak pihak. Suatu kali, Daeng Soetigna mendatangi beliau untuk minta dibuatkan alat musik angklung diatonis dan beliau menyetujuinya.

Tidak berhenti sampai di situ saja karena kemudian beliau juga menurunkan semua ilmunya tentang alat musik angklung ini kepada Daeng Soetigna. Hal tersebutlah yang kemudian membuat pemahaman Daeng Soetigna akan musik angklung semakin dalam dan juga semakin luas saja.

3. Pak Wangsa

Bukan hanya kepada mereka yang tergolong ahli tapi ternyata Daeng Soetigna juga menjadikan seorang petani sebagai gurunya langsung. Petani tersebut bernama Pak Wangsa yang mengajari pembuatan alat musik angklung yang jauh lebih awet. Faktor utamanya terletak pada pemilihan bambu yang tepat.

Bambu tepat yang dimaksud tersebut adalah bambu yang dipotong tepat ketika momen uir-uir berbunyi. Soalnya momen uir-uir berbunyi tersebut adalah kondisi dimana bambu sedang berada dalam kondisi paling keringnya. Jika itu bisa dimanfaatkan maka alat musik angklung yang baik dan juga berkualitas bisa tercipta.

4. Pak Setiamihardja

Dalam proses pembuatan angklung ini tentunya beliau tidak bisa melakukannya seorang diri. Untuk itulah, kemudian beliau dibantu oleh Pak Setiamihardja. Beliau sendiri bukanlah orang sembarangan tapi seorang ahli kerajinan tangan. Hal tersebutlah yang kemudian membuat kemampuan beliau dalam merakit alat musik angklung bisa dibilang berada di atas rata-rata. Sebuah kemampuan yang pastinya sangat dibutuhkan oleh Daeng Soetigna ini.  

Daeng Soetigna Mengharumkan Nama Indonesia dengan Angklung

Awalnya, alat musik angklung ini memang dikhususkan untuk acara adat maupun ritual yang ada di berbagai daerah Indonesia. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa alat musik angklung ini adalah alat yang bernada pentatonis. Dengan status sebagai alat musim pentatonis maka angklung ini hanya bisa memainkan nada da, mi, na, ti dan la.

Keterbatasan tersebutlah yang kemudian alat musik angklung ini sulit sekali untuk bisa memainkan musik internasional. Namun kehadiran dari Daeng Soetigna lantas mendobrak keterbatasan tersebut. Caranya adalah dengan mengubah angklung tradisional pentatonis menjadi bernada diatonis kromatis. Tentunya hasil tersebut tidak bisa dilepaskan dari pengalaman dan juga ilmu musik mumpuni yang dimiliki oleh Daeng Soetigna. Angklung tersebut kemudian diberi nama angklung padaeng.

Dengan perubahan alat musik angklung yang sudah mampu memainkan nada modern maka banyak musik internasional yang juga bisa dimainkan. Hal tersebut jelas saja membuat alat musik angklung makin dikenal luas oleh publik internasional. Sesuatu yang jelas membuat nama Daeng Soetigna makin dikenal.

Terbukti ketika Konferensi Asia Afrika yang diadakan pada tahun 1955 ternyata kelompok musik angklung yang dipimpin oleh Daeng Soetigna diundang ke sana. Tidak berhenti sampai di situ saja jasa yang diberikan oleh Daeng Soetigna. Seperti yang diketahui bahwa dalam pertemuan seperti Konferensi Asia Afrika yang dihadiri oleh banyak pihak seringkali menimbulkan debat sengit.

Apalagi waktu itu mereka semua sedang membahas tentang Perjanjian Linggarjati. Dalam ketegangan tersebut ternyata alunan musik angklung yang dimainkan oleh Daeng Soetigna dan kelompok musiknya dapat meredakan ketegangan tersebut. Tidak hanya sampai di situ saja karena kemudian Daeng Soetigna menawarkan para petinggi tersebut untuk ikut memainkan alat musik angklung tersebut.

Awalnya, mereka terlihat ragu dan enggan untuk memainkannya. Namun setelah mencobanya, para petinggi dari berbagai negara tersebut mengatakan bahwa alat musik angklung mudah dimainkan dan juga terdengar merdu. Hal tersebutlah yang kemudian membuat mereka ketagihan memainkan alat musik angklung tersebut.

Penghargaan yang Didadapatkan

Statusnya sebagai seorang ahli angklung tentunya membuat Daeng Soetigna sudah menorehkan banyak sekali prestasi dalam berbagai bentuk. Salah satu bentuk apresiasi yang didapatkan oleh beliau dalam bentuk penghargaan. Bisa dibilang, penghargaan yang didapatkan oleh beliau sendiri sangat banyak sekali. Menegaskan bahwa karya-karya beliau memang mendapatkan tempat di hati banyak orang. Berikut ini beberapa list penghargaan yang didapatkan oleh Daeng Soetigna.

28 Februari 1968

Penghargaan pertama yang didapatkan oleh Daeng Soetigna terjadi pada 28 Februari 1968. Pada tanggal tersebut, ternyata beliau mendapatkan penghargaan langsung dari Gubernur Jawa Barat yaitu Brigjed Mashudi. Penghargaan itu sendiri didapatkan karena jasa Daeng Soetigna dalam kesenian khususnya dalam kebudayaan.

10 September 1968

Lantas penghargaan kembali didapatkan oleh Daeng Soetigna pada tanggal 10 September 1968. Penghargaan tersebut diberikan atas jasa beliau melestarikan angklung di ibukota. Untuk itulah, Gubernur Jakarta kala itu yaitu Pak Ali Sadikin yang memberikan langsung penghargaan tersebut.

15 Oktober 1968

Nyatanya penghargaan yang diberikan kepada Daeng Soetigna bukan sekadar dari pemerintah daerah lho. Karena pemerintah pusat juga melakukan hal yang sama. Bahkan penghargaan tersebut diberikan langsung oleh presiden Indonesia kala itu yaitu Soeharto. Penghargaan tersebut berupa Satya Lencana Kebudayaan.

17 Agustus 1979

Sedangkan penghargaan terakhir yang didapatkan oleh Daeng Soetigna terjadi pada tanggal 17 Agustus 1979. Pada tanggal tersebut, beliau mendapatkan penghargaan atas jasa dalam pembinaan dan pengembangan seni daerah khususnya untuk alat musik angklung. Penghargaan itu sendiri diberikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat kala itu yaitu H.A. Kunaefi.

Masa Tua

Masa tua yang dimiliki oleh Daeng Soetigna diawali ketika beliau mengakhiri masa jabatannya sebagai PNS pada tahun 1964. Ketika resmi pensiun, maka beliau sudah berumur sekitar 56 tahun. Namun selepas dari masa pensiun tersebutlah, semangat berkarya beliau semakin bebas. Beliau semakin bisa fokus dan juga leluasa dalam mengajarkan sekaligus mengembangkan alat musik angklung. Ilmu-ilmu yang beliau miliki juga kemudian dibagikan kepada banyak pihak. Seperti di SD Soka, Santo Yusup hingga SD Priangan. Beliau sendiri menutup usia pada tanggal 8 April 1984.

Dengan semua penjelasan di atas pastinya membuat kamu menjadi lebih kenal dengan sejarah Daeng Soetigna sebagai legenda angklung. Jasa-jasanya dalam alat musik angklung bisa dibilang tidak akan tergantikan. Sekarang, tugas anak muda seperti kamu untuk bukan hanya mengenal beliau tapi juga melestarikan peninggalan beliau yang dititipkan pada alat musik sekaligus seni musik angklung.

Recent Article : Fakta Menarik dari Rumah Adat Jawa Tengah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *